PERANG antara penjajah Zionis-Israel melawan rakyat Palestina sudah bukan barang baru. Pembantaian terhadap bayi dan bocah Palestina yang dilakukan tentara Zionis juga sudah kerap terdengar.
Tapi, tahukah Anda bahwa Zionis-Israel ternyata juga menggunakan sarana “hiburan” sebagai mesin perang, dalam melumpuhkan pemuda-pemuda Palestina?
Sebuah laporan pandangan mata, yang ditulis kembali oleh Syaikh Ali Thantawi di awal 1970-an, menceritakan bahwa di sepanjang garis perbatasan yang masuk di wilayah pendudukan tentara Zionis-Israel, penguasa Zionis mendirikan banyak sekali bar dan diskotik.
Sejumlah pelacur Yahudi dipekerjakan di sana. Penguasa Zionis membayar mereka dengan gaji yang lumayan. Tugas utamanya adalah menggoda pemuda-pemuda Palestina untuk melakukan kemaksiatan. Mereka tidak saja ada di dalam bar, tapi juga berkeliaran di jalan-jalan.
Tidak seperti pelacur umumnya, wanita-wanita Zionis ini mau melayani pemuda-pemuda Palestina dengan gratis. Di dalam diskotik dan bar tersebut diedarkan pula film-film dan bacaan porno, obat-obat terlarang, dan segala hal yang membangkitkan syahwat serta melenakan.
Bagaimana dengan pemuda Palestina yang menolak diajak berbuat mesum? Seorang pendatang dari tepian wilayah Barat menceritakan, ”Para pemuda yang menolak ajakan tersebut ditangkap dan diancam oleh penguasa Zionis sebagai orang yang simpati terhadap gerakan pembebasan Palestina.”
“Tujuan penguasa Zionis adalah untuk merusak akidah Islam yang dimiliki pemuda-pemuda Palestina. Mereka menyerang para pemuda kita dengan hiburan dan serbuan budaya,” tulis Syaikh Thantawi.
Apa yang dibuat Zionis di tanah pendudukan Palestina, juga dilakukan mereka di dunia secara keseluruhan. Dengan kekuasaannya yang meliputi berbagai bidang kehidupan manusia, Yahudi berhasil menciptakan kecenderungan dunia. Globalisasi, istilahnya.
Salah satunya adalah industri gaya hidup yang sangat materialistik. Adorno, filusf yang juga salah seorang aktivis Frankfurt Institut—sebuah lembaga kajian ilmu-ilmu sosial politik di Frankfurt, menyatakan bahwa dalam masyarakat industri, keberhasilan hidup seseorang diukur dari dari seberapa banyak orang itu memiliki harta benda. Orang sudah tidak mempermasalahkan dengan jalan apa harta itu di dapat.
“Kebahagiaan yang ditawarkan oleh industri konsumsi adalah kebahagiaan semu, karena tidak membawa manusia pada pemilikan diri yang tenang melainkan membuatnya tergantung dari makin banyak benda,” ujar Adorno.
Industri gaya hidup ditopang kuat oleh media massa dan promosi yang sangat gencar. Kebutuhan hidup bukan lagi ditentukan oleh orang-perorang, tapi oleh produsennya sendiri. Kebutuhan konsumen diciptakan oleh produsen.
Seseorang baru dianggap berhasil jika kemana-mana sudah naik mobil Jaguar, bukan Kijang. Seorang politikus akan dianggap sukses jika ia menduduki jabatan tinggi, walau dengan jalan korupsi. Atau orang belumlah dianggap beradab jika masih makan di warteg, bukan di Sizzler atau Mc Donalds.
Tapi, tahukah Anda bahwa Zionis-Israel ternyata juga menggunakan sarana “hiburan” sebagai mesin perang, dalam melumpuhkan pemuda-pemuda Palestina?
Sebuah laporan pandangan mata, yang ditulis kembali oleh Syaikh Ali Thantawi di awal 1970-an, menceritakan bahwa di sepanjang garis perbatasan yang masuk di wilayah pendudukan tentara Zionis-Israel, penguasa Zionis mendirikan banyak sekali bar dan diskotik.
Sejumlah pelacur Yahudi dipekerjakan di sana. Penguasa Zionis membayar mereka dengan gaji yang lumayan. Tugas utamanya adalah menggoda pemuda-pemuda Palestina untuk melakukan kemaksiatan. Mereka tidak saja ada di dalam bar, tapi juga berkeliaran di jalan-jalan.
Tidak seperti pelacur umumnya, wanita-wanita Zionis ini mau melayani pemuda-pemuda Palestina dengan gratis. Di dalam diskotik dan bar tersebut diedarkan pula film-film dan bacaan porno, obat-obat terlarang, dan segala hal yang membangkitkan syahwat serta melenakan.
Bagaimana dengan pemuda Palestina yang menolak diajak berbuat mesum? Seorang pendatang dari tepian wilayah Barat menceritakan, ”Para pemuda yang menolak ajakan tersebut ditangkap dan diancam oleh penguasa Zionis sebagai orang yang simpati terhadap gerakan pembebasan Palestina.”
“Tujuan penguasa Zionis adalah untuk merusak akidah Islam yang dimiliki pemuda-pemuda Palestina. Mereka menyerang para pemuda kita dengan hiburan dan serbuan budaya,” tulis Syaikh Thantawi.
Apa yang dibuat Zionis di tanah pendudukan Palestina, juga dilakukan mereka di dunia secara keseluruhan. Dengan kekuasaannya yang meliputi berbagai bidang kehidupan manusia, Yahudi berhasil menciptakan kecenderungan dunia. Globalisasi, istilahnya.
Salah satunya adalah industri gaya hidup yang sangat materialistik. Adorno, filusf yang juga salah seorang aktivis Frankfurt Institut—sebuah lembaga kajian ilmu-ilmu sosial politik di Frankfurt, menyatakan bahwa dalam masyarakat industri, keberhasilan hidup seseorang diukur dari dari seberapa banyak orang itu memiliki harta benda. Orang sudah tidak mempermasalahkan dengan jalan apa harta itu di dapat.
“Kebahagiaan yang ditawarkan oleh industri konsumsi adalah kebahagiaan semu, karena tidak membawa manusia pada pemilikan diri yang tenang melainkan membuatnya tergantung dari makin banyak benda,” ujar Adorno.
Industri gaya hidup ditopang kuat oleh media massa dan promosi yang sangat gencar. Kebutuhan hidup bukan lagi ditentukan oleh orang-perorang, tapi oleh produsennya sendiri. Kebutuhan konsumen diciptakan oleh produsen.
Seseorang baru dianggap berhasil jika kemana-mana sudah naik mobil Jaguar, bukan Kijang. Seorang politikus akan dianggap sukses jika ia menduduki jabatan tinggi, walau dengan jalan korupsi. Atau orang belumlah dianggap beradab jika masih makan di warteg, bukan di Sizzler atau Mc Donalds.
[sumber: Islampos]
0 komentar:
Posting Komentar